Bismillah,
Suami saya adalah bungsu dari tiga bersaudara, dan satu-satunya laki-laki. Saat tahun 2002 silam, Bapak kembali ke pangkuan-Nya, mas pun benar-benar menjadi satu-satunya laki-laki dalam keluarga itu.
Rumah itu, yang hingga saat ini ditinggali oleh ibu dan mbak-mbakku, dulunya dibangun dengan tangan Bapak sendiri dan ibu yang setia mendampingi.
Saya masuk ke dalam keluarga itu, tiga tahun berselang setelah Bapak tiada. Tidak ada lagi kegetiran dan air mata, yang tersisa adalah sejarah bapak, yang kalau kurangkai menjadi satu sosok, pasti menerbitkan kangen.
Berikut sedikit coretan tentang bapak. Beliau orang jawa tulen yang menikahi wanita jawa tulen. Bapak dulunya pegawai negeri dan juga seorang guru matematik, dari cerita mas, beliau menyambi bekerja sebagai guru les privat. Sampai sekarang pun masih ada buku primbon bapak yang berisi formula-formula matematika seperti integral, diffrensial, dan rekan-rekannya. Kalau ibu lebih fleksibel dengan lingkungan, maka bapak adalah perantau yang tidak tercerabut akar budayanya. Beliau berbahasa halus. Bukan berarti tidak pernah ada peristiwa pahit dalam keluarga ini tapi saat marah atau terluka pun beliau terkendali. Bapak orang yang sederhana, dinding-dinding rumah ini banyak bercerita padaku tentang betapa bersahajanya kehidupan penghuninya. Beliau setia pada ibu, menyelami keluarga ini saya tahu itu bukan kisah belaka. Berbagai kejadian telah membuatku paham, besarnya gumpalan kekecewaan karena pengkhianatan yang harus ditelan salah satu pihak tidaklah mudah disembunyikan dari anak-anak. Mereka selalu tahu, mengambang di langit-langit rumah dan akhirnya di memori mereka saat tiba waktunya pergi dari rumah. Itulah bapak yang saya tahu, tanpa pernah bertemu pun saya sudah mencintai beliau.
Cukup tentang bapak, sekarang tentang ibu.Ibu mertua saya seorang ibu rumah tangga biasa, setelah kepergian Bapak, beliau menjalani hari-hari dari uang pensiun dan beberapa kamar kost warisan Bapak. Ibu energik, awet muda, apa saja jadi gampang di tangan ibu. Ibu tegar dan mandiri, banyak terpaan duka setelah kepergian bapak, tapi orang lain tidak ikut susah dengan itu. Ada alasan saya bilang begitu. Seperti saya bilang di awal tadi, suami saya menjadi satu-satunya laki-laki dalam keluarganya setelah bapak tiada. Praktis setelah saya menikahinya, laki-laki yang tadinya tinggal satu akhirnya menjadi tinggal setengah, kalau dilihat dari tanggung jawab dan menjadi nol kalau dilihat dari kehadiran fisik, karena kami memang tinggal berpisah dari ibu dan mbak-mbak, meskipun tidak terlalu jauh. Ibu "mempercayakan" mas padaku bulat dan utuh, tidak pernah mempertanyakan kredibilitasku sebagai istri, apalagi mencampuri rumah tanggaku. Beliau juga tidak pernah merepotkan mas dengan keluhan-keluhan sentimentil seorang ibu, atau pun keluhan-keluhan sensitif seorang ibu mertua pada menantunya. Ibu mencintai bapak, dulu dan sekarang. Cinta dan penghargaan yang besar antara mereka, yang terasa di hati saya setelah masuk ke dalam keluarga ini.
Mbak-mbak saya dua orang juga telah berumah tangga. Yang pertama, Mbak Vitri seorang ibu rumah tangga dan yang kedua, Mbak Diana sama seperti saya, juga pencari nafkah. Saya tidak begitu intens berinteraksi dengan mbak Diana karena ia juga bekerja dan karena lokasi kerjanya lebih dekat, ia pun memilih tinggal dengan mertuanya.
Kesan yang saya terima dari mbak saya yang pertama adalah pengabdian. Beliau beranak dua, kedua-duanya laki-laki. Dulu dia bekerja, tapi berhenti sepenuhnya karena suaminya memintanya untuk itu. Keluarganya sederhana, ponakan-ponakan saya jauh dari jajanan dan mainan mahal, si kakak langganan beasiswa karena peringkat satu. Hal ini tidak lepas dari kontrol sang ibu setiap hari. Saat berkunjung, sering saya bisa merasakan keletihannya. Pertemuan dengan adik-adiknya, saat satu keluarga utuh berkumpul adalah setitik rekreasi melepas kepenatan. Tapi itulah, mungkin ia sering tidak sadar, bahwa yang dilakukannya adalah sedang menuju pintu-pintu surga. Hal lain darinya yang saya rasakan yaitu ia bereaksi apa adanya pada sikap saya tanpa pertimbangan siapa saya atau darimana asal saya. Ia menghormati dan menghargai saya apa adanya, tidak ada yang berlebihan dari sikapnya, semua pas pada tempatnya.
Latar belakang saya dan mas yang begitu berbeda memberi banyak hikmah baru dalam hidup saya. Kesederhanaan dan kontrol diri salah satunya. Darah biru atau bukan, sungguh tidak penting jenjang kasta tempat kita berada, orang lain mengingat bagaimana kita memperlakukan satu sama lain. Tidak kehilangan kontrol dan menyakiti saat kita sedang tersakiti. Awal-awal menjalani, saya tercengang dengan betapa berbedanya ritme yang bermain di keluarga ini. Tapi ini harmoni yang indah, pengalaman hidup saya semakin kaya setelah mengenal mereka semua. Melalui mereka saya tersadar, betapa Allah SWT mencintai saya dengan memilih mereka sebagai persinggahan fase hidup saya. Alhamdulillah, thank you Allah.
I love you all
Note: Kiri ke Kanan : Mas Agus, Mbak Vitri, Endhy, Mas Budi, Ibu, Mbak Diana, Mas Heri, Bawah: Dewa